Sep 19

Agar Hati Seluas Samudra

Posted by Setiawan Agus | Posted in Agus Setiawan | Posted on 19-09-2009

Agar Hati Seluas Samudra

Seorang ulama terkenal, Ibnu Qayyim Al-Jauzi, pernah mengatakan bahwa banyak faktor yang dapat mendatangkan kelapangan dan kedamaian dalam hati. Faktor-faktor itu antara lain:

1. Tauhid

Besar-kecilnya kedamaian dalam hati seseorang bergantung pada seberapa besar kemurnian dan kesucian iman. Seseorang yang menyekutukan dan mengingkari Allah, hati dan jiwanya pasti akan sempit. Tak ada setitik cahaya pun yang menerangi hatinya. Gelap dan perlahan hati dan jiwanya menjadi mati.

Sep 18

Kita Bukan Pecundang!

Posted by Setiawan Agus | Posted in Agus Setiawan | Posted on 18-09-2009

Kita Bukan Pecundang!Minder? Tidak percaya diri? Tentu kita pernah mengalaminya bukan? Ketika kita berhadapan dengan orang yang lebih tinggi derajatnya dari kita. Ketika kita hendak memulai melakukan sesuatu, atau bahkan ketika kita ingin mengajak menikah seseorang. Dalam keadaan seperti itu, muncul perasaan takut atau was-was dalam diri kita. Perasaan bahwa kita hanyalah orang yang tidak penting…hanyalah warga kelas dua. Kita pun seringkali takut mengalami kegagalan atas usaha kita. Padahal, kita belum melakukan apa-apa. Ibarat perang, kita telah merasa kalah sebelum berperang.

Lantas, bagaimana sebenarnya Islam memandang perasaan semacam ini? Apakah minder itu diperbolehkan?

Sep 16

Demi Sang Waktu…

Posted by Setiawan Agus | Posted in Agus Setiawan | Posted on 16-09-2009

Waktu
“DEMI SANG WAKTU. SESUNGGUHNYA MANUSIA BERADA DALAM KERUGIAN…” (QS. Al-Ashr: 1 – 2)

Betapa pentingkah waktu, hingga Allah secara pribadi mendeklrasikannya? Tentu saja! Banyak orang menganggap waktu sebagai sesuatu yang berlalu saja. Suatu rutinitas yang tidak memiliki makna apa-apa. Padahal, waktu merupakan anugerah besar dari Allah. Waktulah yang menentukan kesuksesan setiap manusia dalam hidupnya, baik semasa di dunia maupun ketika di akhirat nanti.

Sep 14

Momen Untuk Kembali

Posted by Setiawan Agus | Posted in Agus Setiawan | Posted on 14-09-2009

Momen Untuk KembaliBerbuat kesalahan adalah sifat dasar manusia. Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda bahwa manusia memang merupakan makhluk yang sering berbuat kesalahan, dan yang paling baik dari mereka adalah manusia yang bertaubat atas segala kesalahannya.

Coba renungkan kata-kata indah dari Kahlil Gibran dalam Sang Nabi:

“Banyak diantara kalian sekedar manusia, dan banyak diantara kalian belum manusia. Kalian hanyalah makhluk kerdil tanpa bentuk yang berjalan dalam tidur di tengah kabut, sedang mencari kebangkitan dirinya.”

Pernyataan Khalil Gibran di atas merupakan sentilan terhadap hakekat kita sebenarnya sebagai manusia. Kita seringkali mengaku sebagai manusia, tapi perilaku kita tidak mencerminkan pengakuan itu. Terlampau banyak kesalahan dan kekhilafan yang kita perbuat. Bahkan, kita pun seringkali melampaui batas kesalahan itu sendiri, hingga kita tak lagi pantas disebut sebagai manusia.

Aug 17

Be Clean Feel Comfort

Posted by Ya An Nur Razaq | Posted in Ya An Nur Razaq | Posted on 17-08-2009

Be Clean Feel Comfort

Bismillahirrahmanirrahiim,
Bukan bermaksud mengiklan….tapi semoga juga menarik untuk dibaca (semoga bermanfaat)…
Masihkah kita ingat ketika pertama kali belajar naik sepeda, sepeda motor bahkan mobil?. Perasaan takut untuk jatuh, menabrak, tertabrak, ditabrak, minimal takut dimarahi orang-orang yang juga sama-sama pengguna jalan. Intinya kita takut!.

Saya akan sedikit mencoba mencari alasan kenapa takut? (tentunya berdasar pengalaman saya sendiri dan izinkan saya untuk sedikit membagi). Padahal saya sudah berniat ingin bisa naik sepeda, sepeda motor dan mobil….hah tapi ternyata niat itu jelas tak cukup…maka saya mencoba untuk berusaha, fa idzaa azzamta fa tawaqqal alallah maksudnya berusahalah dengan sekuat tenaga baru bertawakkal atau berpasrah. Karena ikhtiar adalah kewajiban manusia atas usaha untuk merubah nasibnya sendiri, QS. Ar-Ra’du [13]:11) Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Setelah berusaha dan berdo’a maka tawakal, tapi sebelum itu ada satu rasa yang tersisip mempengaruhi keridhoan kita yang kan berujung pada keikhlasan akan ketetapan Allah nantinya.

Aug 13

Berbicara dengan Ayat-Ayat Al-Qur’an

Posted by Zahra | Posted in Nirya Zahra | Posted on 13-08-2009

Qur'an

Aku melihat seorang wanita sendirian di Padang pasir, kemudian aku menyapanya, “Siapa Anda?” Wanita tersebut menjawab, “Dan katakanlah, ‘Salam’.

Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk)”. (QS. Az-Zukhruf: 89)

Dari ayat yang telah dibacakannya tadi, aku memahami bahwa ia hendak berkata kepadaku, “Pertama-tama, ucapkanlah salam. Kemudian barulah bertanya! Karena memberikan salam merupakan tanda dan kewajiban seorang jika bertemu kepada orang lain”.
Kemudian aku mengucapkan salam dan bertanya kepadanya, “Apa yang anda lakukan sendirian di Madang pasir?” Ia pun menjawab,

“Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya”. (QS. Az-Zumar: 37)

Aug 12

Sajak Kematian

Posted by Setiawan Agus | Posted in Agus Setiawan | Posted on 12-08-2009

nightKematian adalah sebuah harapan akan masa depan. Kematian bukanlah akhir perjuangan. Kematian hanyalah bentuk penyerahan, adalah bukti kepasrahan dan kekalahan. Pada akhirnya kematian adalah kehidupan.

Malam semakin suntuk. Langit terlalu pekat untuk diarungi gugus bintang. Sementara waktu terus menindih. Menutup kisah kasih makhluk bumi. Melelapkan hari dalam dekap mimpi. Dan jarak semakin jauh membentang. Memisahkan ruh dari raga, untuk kemudian dihujamkan pada jurang imaji.

Aug 10

Amarah dan Paku

Posted by Zahra | Posted in Nirya Zahra | Posted on 10-08-2009

AmarahSuatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Ayahnya berusaha keras untuk membuang sifat buruk anaknya. Suatu hari ia memanggil anaknya dan memberi anaknya sepotong paku. Paku??? Ya… ”Paku” kawan…. (tau kan??? Hehehehehe….)
Sang anak heran. Tapi, bibir ayahnya justru membentuk senyum bijak. Dengan suaranya yang lembut, ia berkata pada anaknya agar memakukan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali marah. Ajaib!!!! (Knapa hayo???? Hohohoho… tapi ini bukan sulap lo….)
Di hari pertama, sang anak menancapkan 48 paku. Begitu juga pada hari kedua, ketiga, dan beberapa hari selanjutnya. Tapi, itu tak berlangsung lama. Setelah itu, jumlah paku yang tertancap berkurang secara bertahap. Ia menemukan fakta bahwa lebih mudah menahan amarahnya daripada ia harus bersusah payah menancapkan banyak paku di pagar. (Ya eyalah… capek kan?!)

Aug 04

Iman…

Posted by Windu | Posted in Windunoto | Posted on 04-08-2009

Itulah yang diperbuat keimanan
Membuka mata dan hati
Menumbuhkan kepekaan
Menyirai kejelitaan, keserasian, dan kesempurnaan…
Iman adalah persepsi baru terhadap alam,
apresiasi baru terhadap keindahan,
dan kehidupan di muka bumi,
di atas pentas ciptaan Allah,
sepanjang malam dan siang…

(Sayyid Quthb)

Apakah pernah mendengar kisah Umar ibn Al Khaththab masuk Islam? Kerasnya hati, menjadi luluh takluk tak berdaya hanya dengan membaca ayat-ayatNya. Rasulullah pernah berdoa,

“Ya Allah, perkuatlah Islam dengan salah satu dari ‘Amr yang lebih Kau cintai: Umar ibn Al Khaththab atau ‘Amr ibn Hisyam”

Terkabullah doa Rasulullah dengan Islamnya Umar, yang pada mulanya akan membunuh Rasulullah. Tetapi setelah membaca ayat-ayat Allah yang ada di rumah saudara perempuannya, hatinya bergetar.

Aug 04

Dan Berlinanglah Air Mata…

Posted by Setiawan Agus | Posted in Agus Setiawan | Posted on 04-08-2009

“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang siaga karena berjaga-jaga (ketika berjihad) di jalan Allah.” (HR. At-Tirmidzi)

Dan Berlinanglah Air Mata...Menangis…tentu engkau pernah melakukannya. Dalam setiap episode kehidupan kita sebagai manusia, tak terhitung berapa kali kita menangis. Di masa kecil, kita pernah menangis akibat terjatuh.. Beranjak remaja, ada tetes-tetes air yang menetes dari dua sudut mata kita tatkala sang kekasih hati berpaling. Setelah dewasa, kita pun sempat menitikkan air mata kala musibah menyapa kehidupan kita.

Wahai saudaraku, kini renungkanlah: pernahkah kita menangis karena takut kepada Allah? Adakah tetes-tetes air mata yang keluar, ketika kita mengingat dosa-dosa yang pernah kita lakukan? Dan sempatkah kita menitikkan air mata kala lisan ini melafadzkan firman Sang Pencipta…?